LIMA PULUH KOTA – Di kaki megah Gunung Sago, berdiri sebuah nagari yang sarat sejarah dan keindahan alam: Nagari Situjuah Gadang. Terletak di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, nagari ini dikenal sebagai daerah berbukit-bukit yang subur dan masih lekat dengan tradisi Minangkabau.
Bentang Alam dan Wilayah Situjuah Gadang
Nagari Situjuah Gadang memiliki luas sekitar 16,6 kilometer persegi dengan ketinggian antara 600 hingga 850 meter di atas permukaan laut. Suhu sejuk dan tanah subur menjadikan wilayah ini cocok untuk pertanian dan perkebunan.
Secara administratif, nagari ini berbatasan dengan:
- Timur: Tanjung Haro Sikabu-Kabu dan Gunung Sago
- Barat: Limbukan dan Banda Dalam
- Utara: Banda Dalam dan Gunung Sago
- Selatan: Padang Kerambia dan Aur Kuning
Wilayah nagari terbagi ke dalam enam jorong, yakni Jorong Situjuah Gadang, Padang Kuniang, Padang Jariang, Kociak, Tanjuang Simantuang, dan Tanjuang Bungo. Jaraknya hanya 2 kilometer dari kantor kecamatan, 17 kilometer dari ibu kota kabupaten, dan 131 kilometer dari Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat.
Kehidupan Masyarakat dan Mata Pencaharian
Nagari Situjuah Gadang dihuni oleh 5.417 jiwa dalam 1.450 kepala keluarga (KK). Mayoritas penduduk—sekitar 88 persen—bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Sebagian kecil lainnya bekerja sebagai tukang, pedagang, pegawai swasta, serta kurang dari 5 persen sebagai pegawai negeri.
Menariknya, profesi ojek kini menjadi sumber penghasilan baru di nagari ini. Tercatat sekitar 120 unit ojek beroperasi di berbagai jorong.
Dari sisi sosial ekonomi, terdapat 310 KK penerima raskin, 1.159 jiwa penerima Jamkesmas, dan 378 jiwa penerima Jamkesda. Sementara itu, 104 tenaga muda telah merantau ke luar negeri, terutama ke Malaysia, dan ke berbagai kota di Indonesia untuk mencari penghidupan.
Potret Pertanian: Subur tapi Belum Makmur
Pertanian menjadi nadi kehidupan di Nagari Situjuah Gadang. Sawah dan ladang terbentang luas, ditanami padi, sayuran, serta tanaman keras. Namun, meski tanahnya subur, para petani belum menikmati hasil maksimal.
Harga jual hasil tani kerap tidak sebanding dengan biaya produksi. Selain itu, sebagian besar petani hanya memiliki lahan sempit, rata-rata kurang dari satu hektare, sementara total lahan pertanian di nagari ini hanya 862 hektare untuk 1.450 keluarga petani. Tidak sedikit warga yang bahkan tidak memiliki sawah atau ladang sendiri.
Kondisi inilah yang membuat peran kelompok tani dan KWT (Kelompok Wanita Tani) menjadi penting. Saat ini terdapat 26 kelompok tani dengan total 653 anggota, mencakup sektor sawah, hortikultura, perikanan, hingga usaha kecil seperti pembuatan kerupuk.
Pemerintahan Nagari: Dari Desa Kembali ke Nagari
Secara pemerintahan, Situjuah Gadang memiliki struktur lengkap mulai dari Wali Nagari, Bamus (Badan Permusyawaratan Nagari), Kerapatan Adat Nagari (KAN), hingga Lembaga Syarak Nagari (LSN).
Sistem pemerintahan di nagari ini telah mengalami beberapa kali perubahan. Sejak tahun 1970 hingga kini, Situjuah Gadang pernah berbentuk nagari, desa, lalu kembali menjadi nagari. Sejak tahun 2010, jabatan Wali Nagari dipegang oleh Syofiarledi.
Perjalanan pemerintahan ini mencerminkan dinamika administrasi di Sumatera Barat, yang terus menyesuaikan diri dengan sistem otonomi daerah dan penguatan adat Minangkabau.
Lembaga Sosial dan Pendidikan Masyarakat
Selain pemerintahan formal, kehidupan sosial di Nagari Situjuah Gadang juga didukung oleh beragam lembaga masyarakat.
Ada PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menyediakan pendidikan nonformal seperti PAUD, Paket A–C, kursus menjahit, perbengkelan, serta pelatihan tani dan peternakan.
Lembaga lain yang aktif antara lain:
- FK TPA/TPSA, yang mengkoordinasikan guru dan kegiatan pendidikan Al-Qur’an.
- BAZ (Badan Amil Zakat), yang menyalurkan zakat dan sedekah kepada warga membutuhkan.
- PKK dan Bundo Kanduang, organisasi perempuan yang berperan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga dan kesetaraan gender.
- Organisasi Pemuda, yang menjaga semangat dan kreativitas generasi muda nagari.
Menjaga Warisan Adat dan Alam
Nagari Situjuah Gadang tidak hanya dikenal karena tanahnya yang subur, tetapi juga karena kuatnya ikatan adat dan budaya. Lembaga seperti KAN berperan penting menjaga nilai-nilai tradisi, sementara masyarakat tetap menjunjung tinggi falsafah Minang: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Dengan segala potensinya, Situjuah Gadang menjadi contoh nyata bagaimana sebuah nagari di lereng gunung bisa tetap hidup harmonis antara adat, alam, dan masyarakatnya.





